CARA MEMBUAT SABUN ALAMI

CARA MEMBUAT SABUN ALAMI


Membuat sabun alami itu mudah. Bisa dilakukan dirumah bahkan menggunakan peralatan yang dipakai dirumah tangga, seperti misalnya: kocokan telur, spatula, wadah plastik dll. Menurut informasi yang sudah beredar luas di internet maupun melalui buku dan yang jelas sudah saya praktekkan dirumah, ada 4 cara membuat sabun alami:

Proses Dingin. Proses dingin (Cold Process)
Dalam pembuatan sabun yang memakai Metode cold process atau Proses dingin, temperatur yang dianjurkan dalam pencampuran antara larutan alkali dan minyak adalah sekitar 45-50 derajat celcius. Proses dingin dilakukan dengan mencampurkan asam lemak dengan larutan sodium hidroksida (kaustik soda). Asam lemak ini bisa saja terdiri dari berbagai macam misalnya, mulai dari lemak sapi hingga minyak Nabati (Minyak Kelapa, Sawit, Zaitun,dll). Pembuatan sabun dengan proses yang mencampurkan sodium hidroksida kedalam  air dan mencampurkannya ke dalam minyak akan menghasilkan reaksi kimia yang disebut “saponifikasi”. Selama proses saponifikasi, minyak dan kaustik soda akan tercampur dan menjadi sabun – proses ini memerlukan waktu 6 minggu untuk menjadi sempurna.

Pembuatan sabun dengan proses ini lebih mudah dibandingkan dengan proses lainnya tetapi tetap memerlukan perlengkapan keselamatan seperti kacamata dan sarung tangan. Cara membuat sabun proses dingin diperlukan langkah-langkah yang tepat dan tetap harus hati-hati.
Sedangkan hasil Sabun dari proses ini memiliki kualitas yang sangat baik yaitu keras dan tahan lama. Berdasarkan minyak yang dipakai, maka anda dapat memperoleh berbagai jenis sabun, misalnya sabun yang berbusa banyak (minyak kelapa merupakan penghasil busa yang baik), sabun yang sangat lembut (jika anda memakai minyak zaitun) atau sabun yang melembabkan kulit (jika anda menambahkan shea atau cocoa butter atau minyak rami).

Proses Panas (Hot Process)
Proses panas merupakan cara yang telah digunakan sejak jaman dulu. Pada proses ini semua bahan dicampur menjadi satu dalam satu wadah dan dipanaskan, Perbedaan utama dari kedua proses ini adalah pemanasan. Proses pemanasan bahan akan mempercepat pembentukan sabun dan menghasilkan sabun yang lebih padat.
Pembuatan sabun dengan proses pemanasan membutuhkan ketepatan dalam mempersiapkan semua hal. Begitu anda mulai membuat sabun dengan proses pemanasan, maka pastikan bahwa semua hal telah siap, antara lain peralatan seperti wadah, sendok, cetakan, timbangan, pisau dan lain-lain. Demikian juga dengan perlengkapan keselamatan seperti sarung tangan, masker, alas meja dan bahan-bahan lainnya.
Untuk cara pembuatan sabun dengan proses panas ini yang harus diperhatikan adalah kesesuaian panas suhu cairan Kaustik Soda dengan Minyak yang dipanaskan.

Dilelehkan (Melt and Pour)
Secara teknis, semua sabun adalah “Sabun Gliserin”. Dalam sabun produksi pabrik, gliserin yang berlebihan pada sabun akan dibuang. Sehingga pada sabun buatan sendiri kaya akan gliserin karena tidak ada pembuangan gliserin.
Di pasaran, istilah Sabun Gliserin menunjuk pada sabun bening. Biasanya, sabun yang bening mempunyai ekstra gliserin yang ditambahkan untuk menghasilkan sabun yang berkhasiat melembabkan kulit. Gliserin adalah “pelembab”. Senyawa ini membawa kelembaban sendiri; berdasarkan teorinya, jika anda membasuh tangan dengan sabun gliserin, maka akan tersisa lapisan tipis gliserin yang memberi kelembaban di kulit.
Sabun dasar yang bening dapat dibeli dalam bentuk balok besar dan dapat dilelehkan, diwarnai dan diberi pewangi dan kemudian dicetak. Jenis sabun ini diberi nama “Lelehkan dan Tuangkan” sedangkan seni melelehkan dan menuangkan sabun ini disebut “Penuangan Sabun”. Cara ini sangat popular karena mudah dilakukan, karena tidak memerlukan perlengkapan keselematan, bahkan anak-anakpun dapat mengerjakannya.

Daur Ulang (Rebath)
Cara ini adalah bentuk lain dari proses dingin. Cara ini dapat dilakukan dengan memarut atau memotong sabun yang sudah jadi dari proses dingin, kemudian masukkan dalam kukusan atau panci, panaskan hingga sabun meleleh. Tambahkan pewarna atau pewangi dan cetaklah. Cara ini biasanya digunakan untuk mengawetkan bau dan khasiat dari minyak esensial. Selain itu jika pada proses pembuatan sabun mandi yang lain terdapat sisa, bisa di “Rebatch”.
Proses ini juga hampir sama dengan proses melt and Pour, hanya yang membedakannya adalah sabun yang tidak jadi dengan sabun dasar.

0 Comments :

Post a Comment